Sebelum IPNU
terbentuk, para pelajar NU sudah mendirikan organisasi di daerah masing-masing,
yang antara satu dengan yang lainnya tidak saling berkaitan. Ada Persatuan
Siswa NO (Persano) – djaman doeloe – di Surabaya tahun 1939, Iktan Murid
NO di Malang tahun 1945, Subbanul Wathon di Madura tahun 1045, dan lain
sebagainya. IPNU didirikan ketika terselenggaranya Kongres LP Ma’arif di
Semarang, dimana basis gerak IPNU adalah di kalangan pelajar, remaja dan
santri. Sejak berdirinya IPNU menjadi salah satu bagian LP Ma’arif dan baru
pada tahun 1966, ketika di selenggarakan Kongres IPNU di Surabaya, IPNU resmi
melepaskan diri dari LP Ma’arif dan menjadi badan otonom NU. Salah seorang
pemrakarsa berdirinya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) adalah Prof. Dr.
KH M. Tolchah Mansur yang lebih di kenal sebutannya dengan nama “Rekan
Tolchah”.
Sejak berdirinya
IPNU merupakan kependekan dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’, dalam
perkembangannya, nama IPNU dengan kependekan itu, sejak tahun 1988, melalui kongresnya
yang ke-10 di Jombang – di kenal dengan deklarasi Jombang – kepanjangannya di
ganti menjadi Ikatan Putera Nahdlatul Ulama’, karena harus menyesuaikan diri
dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1985 tentang keorganisasi masyarakatan
(Ormas), yang melarang adanya organisasi pelajar di sekolah, selain Organisasi
Siswa Intra Sekolah (OSIS). Namun setelah Orde Baru tumbang, di saat kebebasan
berpendapat dan berekspresi bisa di peroleh dengan mudah, singkatan itu di
kembalikan lagi seperti saat kelahirannya. Melalui kongresnya yang ke-14 di
Surabaya pada tanggal 18-22 Juni 2003, kepanjangan IPNU kembali seperti semula
: Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama.









0 komentar:
Posting Komentar